BMKG: Kemarau 2019 Lebih Parah dari 2018

Badan Meteorologi Klimatologi dan Heofisika Tanjung Perak menyampaikan, bahwa kemarau 2019 akan lebih ekstrem dari 2018 lalu.

Hal ini dikarenakan posisi matahari sempat menjauh dan akan mendekat di titik katulistiwa pada Agustus sampai September nanti.

“Artinya jika Indonesia beberapa daerah sempat mencapai titik terdingin yakni di bawah titik nol. Maka kemarau akan berpotensi berada di titik terpanas,” lanjut Ari Widjajanto, Kepala Kelompok Forecaster Stasiun Meteorologi TG Perak Surabaya, Rabu (17/7/2019).

Ari menyebutkan, adanya potensi kemarau di sembilan daerah akan sampai pada kondisi ekstream.

Sehingga BMKG mengharapkan pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur segera mengantisipasi kondisi ini di Agustus sampai September nanti.

“Kondisi saat ini saja sembilan daerah sudah 60 hari lebih tak ada hujan. Menurut data juga sembilan daerah sudah mengalami kekeringan,” ungkap Eko.

Menurut Eko, kesembilan daerah tersebut adalah daerah terbanyak di Pulau Jawa.

Seperti di Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Madiun, Nganjuk, dan Kabupaten Blitar, Jember, Banyuwangi sebagian, Bondowoso sebagian, Lamongan sebagian.

Ari menggambarkan, jika pada 2018 puncak kemarau Kota Surabaya mencapai 37 derajat selsius. Untuk 2019 bisa mencapai 37 derajat bahkan lebih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Tetap Tenang di Daerah Rawan Gempa Tsunami

Jum Jul 19 , 2019
Warga di Kabupaten Pangandaran terutama yang bermukim di daerah pesisir pantai mengaku cukup resah dengan adanya pemberitaan dari para pakar Tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) yang memprakirakan, gempa megathrust dengan magnitudo 8,8 berpotensi terjadi di selatan Pulau Jawa dan bisa menyebabkan timbulnya gelombang tsunami dengan ketinggian 20 meter […]
%d blogger menyukai ini: