Kearifan Lokal dengan Sejarah Menjadi Kekuatan Bagi Produk Oleh-oleh

Kuliner dan oleh-oleh memang semakin banyak penggemarnya. Beragam ide kreatif pun terus digali dan diangkat pelaku usaha untuk menjadikan produknya unik dan bisa diterima pasar dengan baik.

Sejarah dan kearifan lokal memang marak diangkat pelaku usaha, termasuk di sektor kuliner dan oleh-oleh. Sejarah dan kearifan lokal dijadikan senjata utama bagi mereka untuk menarik perhatian pasar.

Siliwangi Bolu Kukus salah satunya. Produk oleh-oleh ini bukan hanya mengusung nama yang khas Bumi Pasundan, yaitu Siliwangi, tapi juga menggunakan bahan baku asli tanah Sunda.

Terdapat beberapa bahan baku yang digunakan adalah Susu Lembang, Stroberi Ciwidey, Kopi Bogor, Ubi Cilembu, Ketan Kelapa, Alpukat Mentega, Brownies Coklat, dan Talas Bogor. Director CV. Boga Karya Siliwangi, Muhammad Faizal Chaniago, mengatakan, produknya ingin dikenal sebagai oleh-oleh khas tanah Pasundan.

Siliwangi memang lebih ditonjolkan karena nama tersebut sangat erat dengan Bumi Pasundan dan memiliki filosofis kuat. Siliwangi sendiri berasal dari kata Silih dan Wawangi. “Silih Wawangi menjadi kesatuan dari semboyan Prabu Siliwangi, Silih Asih Silih Asah Silih Asuh Silih Wawangi,” tuturnya.

Tenaga kerja yang diserap mencapai 42,5 persen dari total jumlah pekerja di semua sektor IKM. Kemenperin mencatat, IKM makanan dan minuman menjadi potensi terbesar bagi pariwisata di Indonesia.

Dalam kondisi ini, tak hanya menjaga kualitas produk, pebisnis di sektor oleh-oleh tinggal beradu keunikan dan kekhasan. Di sanalah kearifan lokal berbalut sejarah menjadi kekuatan besar bagi produk oleh-oleh.

Tenaga kerja yang diserap mencapai 42,5 persen dari total jumlah pekerja di semua sektor IKM. Kemenperin mencatat, IKM makanan dan minuman menjadi potensi terbesar bagi pariwisata di Indonesia.

Dalam kondisi tersebut juga, selain menjaga kualitas produk, pebisnis di sektor oleh-oleh tinggal beradu keunikan dan kekhasan. Di sanalah kearifan lokal berbalut sejarah menjadi kekuatan besar bagi produk oleh-oleh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

UKM Sulit Dapatkan Gas Bersubsidi Sesuai dengan HET

Sab Okt 26 , 2019
Pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kabupaten Purwakarta hingga kini masih kesulitan mendapatkan gas elpiji tiga kilogram bersubsidi yang sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). Mereka hanya bisa mendapatkannya di agen dan pangkalan gas dengan menunjukkan kartu identitas UKM. Kepala Bidang UKM Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Purwakarta, Ahmad Nizar, menyebutkan […]
%d blogger menyukai ini: