Sungai Cilamaya Tercemar Limbah, Pelaku Belum Juga Ditindak

Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat menuturkan Sungai Cilamaya tercemar limbah berdasarkan uji laboratorium. Namun, pemerintah belum juga menindak para pelaku pencemaran tersebut sampai saat ini.

“Masih berproses. Kemarin ada rapat evaluasi hasil pemeriksaan laboratorium dengan mengundang kabupaten-kabupaten terkait, Kepolisian Daerah Jawa Barat dan lain-lainnya. Besok ada rapat juga di KLHK terkait penanganan Cilamaya ini,” ungkap Kepala DLH Jawa Barat Bambang Rianto.

Menurutnya, Ia belum mendapatkan laporan hasil rapat bersama para pemangku kebijakan terkait dari stafnya. Karena itu, pemerintah provinsi belum menentukan sikap terhadap para pelaku pencemaran khususnya pihak perusahaan pemilik pabrik yang terbukti membuang limbahnya ke Sungai Cilamaya.

Penanganan pencemaran limbah di Sungai Cilamaya juga dilakukan oleh Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Dedi Mulyadi. Bambang berharap penanganan tersebut tersinergis dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Sebaiknya terpadu. Ya bagus saja, apalagi beliau sebagai anggota DPR, tentunya punya kapasitas yang besar. Yang penting, diharapkan Pemprov diikutsertakan dengan kegiatan beliau agar sinergi,” ucap Bambang.

Sedangkan, Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Madya Anna Oktavia menyebutkan bahwa pencemaran yang terjadi di Sungai Cilamaya. Berdasarkan hasil uji laboratorium, sejumlah indikator menunjukkan angka di atas baku mutu air yang aman digunakan oleh makhluk hidup khususnya manusia.

Penelitian yang serupa juga dilakukan oleh tim laboratorium Perum Jasa Tirta II. Asisten Manajer Laboratorium Jasa Tirta II Leni Mulyani menyatakan hasil uji laboratorium dari sampel air Sungai Cilamaya memang tercemar limbah dari hulu hingga ke hilir.

Tim akhirnya mengambil sampel dari empat lokasi di Daerah Aliran Sungai Cilamaya pada 4 Oktober 2019 lalu. Yakni, di wilayah hulu sebelum kawasan pabrik, setelah pabrik hingga bendungan atau Dam Cilamaya.

Leni menyatakan, BOD yang sesuai baku mutu ialah dua miligram per liter. Sedangkan menurut hasil uji laboratorium menunjukkan angka 12 miligram per liter di hulu. Sedangkan setelah tercampur limbah industri menjadi lebih dari 200 miligram per liter.

Untuk COD, Leni mengungkapkan hasil analisisnya di wilayah hulu menunjukkan angka 27 dari seharusnya hanya 10 miligram per liter yang sesuai baku mutu. Kandungan terus meningkat hingga puluhan miligram per liter setelah melewati pembuangan limbah pabrik.

Angka BOD-COD diakui baru mengalami penurunan di Dam Cilamaya yang menjadi kawasan hilir sungai tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Bek Persib Bandung Ardi Idrus Tembus Timnas

Sel Nov 12 , 2019
Penampilan Ardi Idrus bersama Persib Bandung telah memikat jajaran pelatih Timnas untuk memanggil pemain asal ternate tersebut saat Timnas menghadapi Malaysia, pada pertandingan terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2020. Hal tersebut merupakan pertama kalinya Ardi Idrus membela Timnas. Tak hanya Ardi Idrus, pemain Persib Bandung lainnya yang ikut dipanggil adalah Febri […]
%d blogger menyukai ini: